Jumat, 17 Juni 2016

BANGUNAN

Bangunan 
Bangunan adalah suatu bentukan yang mempunyai massa, volume dan di dalamnya terdapat ruang – ruang yang sesuai dengan kegiatan serta fungsi di dalamnya. Beberapa pengertian dari sebuah bangunan, adalah sebagai berikut :
     Jerman Residential.
Yang disebut rumah / rumah, meskipun bangunan yang berisi sejumlah besar unit hunian tersendiri sering disebut gedung apartemen / blok untuk membedakan mereka dari rumah lebih ‘individu’.
    Oxford University Press.
Bangunan adalah tempat berlindung dari cuaca dan sebagai ruang kehidupan secara umum, untuk memberikan privasi, untuk menyimpan barang dan nyaman hidup dan bekerja, sebagai tempat penampungan merupakan divisi fisik habitat manusia (tempat kenyamanan dan keamanan) dan bagian luar (tempat yang pada waktu yang mungkin berlaku kasar dan berbahaya).
    Definisi dalam berbagai hal :
§  Sebagai Teknik Sipil struktur seperti rumah, pusat ibadah, dll Pabrik yang memiliki pondasi, dinding, atap yang melindungi manusia dan mereka sifat dari efek keras langsung dari cuaca seperti hujan, angin, matahari dll.
§     Tindakan membangun, mendirikan, atau mendirikan.
§     Seni membangun bangunan-bangunan, atau praktek arsitektur sipil.
§   Apa yang dibangun; kain atau bangunan dibangun, sebagai rumah, sebuah gereja, benteng, arena / stadion, dll.
§  Kegiatan komersial yang terlibat dalam membangun gedung-gedung; “bisnis utama mereka adalah rumah”; “pekerja dalam perdagangan bangunan.
§  Sebuah struktur konstruksi yang memiliki atap dan dinding dan berdiri kurang lebih permanen di satu tempat, “ada sebuah bangunan tiga lantai di sudut jalan”, “itu adalah sebuah bangunan megah.

PENGERTIAN RUMAH

Pengertian Rumah
Rumah bukan sekedar wujud fisik semata, namun juga merupakan produk budaya yang bentuk dan layoutnya biasanya dipengaruhi oleh  nilai-nilai budaya, ketertarikan, adanya pilihan-pilihan (Rapoport., Qtd. in. Mazumdar, 1997) yang mengilhami sebuah tempat tinggal dengan arti simbolik (Rapoport; Lawrence; Low, Qtd. in. Mazumdar dan Mazumdar, 1997).
Berikut ini adalah pengertian dan definisi rumah :
a.       Coirul Amin
Rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal atau bangunan pada umumnya
b.      Alfrida L. Membala
Rumah adalah tempat berlindung dari hujan. Rumah adalah tempat berlindung dari terik matahari. Rumah adalah tempat istirahat. Rumah adalah tempat keluarga, berkumpul bersama, bercerita, makan, dan berdoa bersama.
c.       Lilly T. Erwin
Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan berkumpul suatu keluarga. Rumah juga merupakan tempat seluruh anggota keluarga berdiam dan melakukan aktivitas yang menadi rutinitas sehari-hari.
d.      Muhammad Khoirudin
Rumah adalah kebutuhan pokok manusia.
e.       Anonim
Rumah adalah suatu tempat untuk beristirahat dan untuk memperbaiki jiwa dan tubuh.
f.       Mona Sintia, SP
Rumah merupakan jantung kehidupan yang semestinya dapat menjadi sumber kedamaian , sumber inspirasi, dan sumber energi bagi pemiliknya.
g.      Andie Wicaksono
Rumah merupakan tempat untuk berteduh atau berlindung dari panas, hujan, dan hawa dingin; tempat untuk bersitirahat; serta tempat berkumpul anggota keluarga. Itulah sebabnya memperoleh sebuah rumah harus direncanakan dengan baik.
h.       Diana Tantiko
Rumah adalah tempat untuk pulang, tempat seseorang (atau sebuah keluarga) memperoleh ketenangan, istirahat, dan perlindungan.
i.        Martien de Vletter
Rumah merupakan investasi yang tidak saja harus dikejar aspek murahnya (ekonomi), tetapi juga investasi sosial, lingkungan, dan budaya.
>       Rumah Adat
Rumah Adat adalah merupakan Bangunan rumah yang mencirikan atau khas bangunan suatu daerah di Indonesia dan melambangkan kebudayaan dan ciri khas masyarakat setempat.
Rumah adat sering disebut dengan ”ruma gorga” atau juga sering disebut dengan ”ruma bolon”, yaitu : rumah besar yang memiliki penuh ukiran-ukiran dan makna-makna simbolik. Pada posisi rumah, terdapat kepercayaan akan : banua ginjang (dunia atas), banua tonga (dunia tengah/bumi), dan banua toru (dunia bawah/dunia para makhluk halus).
>       Macam – Macam Rumah Adat di Indonesia
·      Rumah Adat Jawa
Dalam masyarakat Jawa, RUMAH disebut "griya" yang berarti "GUNUNG AGUNG". Sehingga dapat dilihat bahwa orang Jawa menganggap dan memperlakukan rumah sebagai –gunung besar- yang menjadi sumber kehidupan.
Rumah Jawa sarat dengan makna yang tersirat di balik perumpamaan yang didasarkan atas kepercayaan dan persepsi orang Jawa terhadap rumah serta harapan-harapan kebaikan yang akan didapat setelah menghuni sebuah rumah.
Perumpamaan ini kemudian diwujudkan dalam bentuk petungan angka-angka patokan perencanaan dan pembangunan rumah yang dikemas dalam system klasifikasi simbolik Jawa.
o   Orang Jawa dalam lingkungan budaya yang penuh dengan perlambang (simbol). Segala maksud dan tujuan selalu diwujudkan dalam bentuk-bentuk perlambang atau perumpamaan.
o   Sistem yang didasarkan pada 2 kategori dikaitkan pada hal-hal yang berlawanan atau saling melengkapi, seperti Inggil (tinggi) dan andap (rendah), ngajeng (depan) dan wingking (belakang).
Dimana pembagian-pembaian ruangan dalam rumah Jawa adalah:
o   Griya Wingking (rumah induk=rumah belakang)
Bangunan ini merupakan tempat  tinggal orang tua dan anak-anak perempuan serta tempat menyimpan raja-brana (harta yang berharga). Dalam rumah induk ini terletak krobongan dan petanen  yang dianggap sebagai bagian paling sakral dalam rumah Jawa.
o   Pandapa
Merupakan bagian rumah yang berlantai rendah. Bagian ini merupakan bangunan terbuka (tanpa dinding) tempat menerima tamu atau mengadakan pertemuan.
o   Pringgitan
Sebuah tempat untuk mempergelarkan wyang kulit. Bagian rumah ini merupakan bangunan penyambung antara pandapa dan griya wingking.
o   Regol
Adalah sebuah gerbang masuk halaman rumah.
o   Pawon
Berasal dari kata awu=abu, adalah tempat yang banyak abu, dari api yang digunakan untuk memasak. Pawon merupakan bangunan tersendiri, terpisah dari griya wingking. 
o   Gandok
Yang mempunyai arti kata berimpitan. Dimana sebagai "anak rumah" yang beradu tritisan dengan griya wingking, dan merupakan bangunan hunian untuk anak laki-laki.
o   Lumbung
Sebagai bangunan untuk menyimpan persediaan makanan (padi), nama lumbung diambil dari bentuk tumpukan padi yang disebut nglumbung.
o   Kandang
Berasal dari kata kaadhang-adhangan, artinya dihadang-hadangi. Bangunan kandang berwujud palang-palang untuk menghalangi binatang ternak.
o   Gedogan
Berasal dari kata gegedhugan, berarti yang diandalkan. Gedogan adalah nama khusus untuk kandang kuda, mengingat bahwa kuda adalah binatang andalan.
o   Masjid
Tempat sembayang, berupa bangunan dengan atap bentuk  tajug (piramid). Dalam Kawruh Kalang versi Sasrawirjatma hanya disebutkan adanya griya masjid sebgai bagian rumah Jawa  tanpa dijelaskan fungsinya.
·      Rumah Adat Bali
Di dalam membangun rumah dan pura-pura orang Bali sudah mempunyai aturan-aturan tertentu yaitu asta kasola-kosali dan  asta bumi walaupun aturan-aturan ini bersifat mistis, namun ini merupakan dasar arsitektur yang tertib dan teratur. Aturan-aturan ini mencakup susunan denah, ukuran, arah/orientasi, pantangan-pantangan dll.
Dalam Asta Kosali dijelaskan aturan-aturan dalam hal arah, ukuran, bentuk, maupun desain bangunan. Begitu mendetailnya dokumen kuno mengenai tata cara membangun ini sampai-sampai cara memilih latar belakang sosial dan orang-orang yang membangun rumah pun dipapankan di sini.
Pembagian ruang dalam arsitektur Bali juga tampaknya memperhitungkan aliran energi yang rnasuk ke dalam bangunan. Ini terlihat dari dinding aling-aling yang seringkali kita temui begitu masuk ke dalam kompleks bangunan Bali. Dalam buku Balinese Architecture (Periplus, 1999) yang ditulis oleh Julian Davison dan Bruce Granquist disebutkan bahwa dalam arsitektur Bali, pembagian area bangunan memakai tubuh manusia sebagai modelnya. Misalnya dalam kompleks permukiman Bali, tempat sembahyang dianggap sama dengan posisi kepala, daerah kamar tidur dan tempat menerima tamu adalah tangannya, dan pekarangan di tengah merupakan pusar, tempat pediangan adalah organ seksual, sedangkan dapur adalah kakinya.
Tabel Macam-Macam Rumah Adat di Indonesia
NAMA DAERAH
RUMAH ADAT
CIRI - CIRI
Aceh
Rumoh Aceh
§  panggung.
§  mempunyai 3 serambi.
Sumatera Barat
Rumah Gadang
§  tonjolan atap mencuat ke atas.
§  banyaknya tonjolan 4-7 buah.
Riau
Selaso Jatuh Kembar
§  dilengkapi dengan balai adat.
§  terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur, ruangan bersila, anjungan dan dapur.
Sumatera Selatan
Rumah Limas
§  rumah panggung berjenjang lima.
Jawa
Joglo
§  atap pendapanya yang menjulang tinggi seperti gunung.
Papua
Honai
§  terdiri dari 2 lantai.
§  lantai pertama sebgai tempat tidur.
§  lantai kedua sebagai tempat bersantai dan tempat makan.
§  Berbentuk jamur dengan ketinggian 4 meter.
Sulawesi Selatan
Tongkonan
§  rumah panggung dari kayu .
§  kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau.
§  atap rumahnya dilapisi ijuk hitam dan bentuknya melengkung persis seperti perahu telungkup dengan buritan.
§  terdiri dari 3 ruangan : ruang tamu, ruang makan, dan ruang belakang.
§  depan rumah tersusun tanduk-tanduk kerbau.
Sulawesi Tenggara
Malige
§  berbentuk panggung.
§  terdiri dari 3 lantai.
§  pada kiri kanan lantai 2, ada ruang tempat penenun kain.
Sulawesi Utara
Rumah Pewaris
§  mempunyai ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar-kamar.
§  di kanan kiri rumah terdapat tangga.
§  tangga sebelah kanan untuk memasuki rumah.
§  tangga sebelah kiri untuk keluar rumah.
Sulawesi Tengah
Rumah Tambi
§  berbentuk panggung.
§  atapnya sekaligus berfungsi sebagai dinding.
§  atap terbuat dari daun rumbia atau bambu dibagi 2.
Kalimantan Tengah
Rumah Betang
§  panjang
§  bawah kolong digunakan untuk bertenun dan menumbuk padi.
§  satu bangunan rumah dihuni kurang lebih 20 keluarga.
Kalimantan Selatan
Bubungan Tinggi
§  rumah panggung.
§  dibawahnya untuk menyimpan padi dan sebagainya.
§  terdapat pelatar.
Maluku
Bailo
§  atapnya besar dan tinggi.
§  atapnya dari daun rumbia.
§  dindingnya dari tangkai rumbia.
Betawi
Rumah Kebaya
§  teras rumahnya yang luas.
§  pagar terbuat dari kayu dengan ukiran khas betawi dengan bentuk rumah kotak ( dibangun diatas tanah berbetuk kotak).
§  Rumah Bapang terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dapur dan teras extra luas.



SEJARAH ARSITEKTUR

Sejarah Arsitektur
Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara (bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktik-praktik, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi.
Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah "arsitek priyayi" yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya.
Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan, arsitektur menjadi lebih multi-disiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Inilah keadaan profesi arsitek sekarang ini. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, sebuah museum senirupa menjadi lahan eksperimentasi gaya dekonstruktivis sekarang ini, namun esok hari mungkin sesuatu yang lain.
2.2.   Jenis-jenis Arsitektur
a.       Arsitektur Kuno
b.      Arsitektur Post Modern
Post modern bila diartikan secara hafiah kata – katanya terdiri atas “ post “ yang artinya masa sesudah dan “ Modern “ yang artinya Era Modern maka dapat disimpulkan bahwa post modern adalah masa sesudah era modern (era diatas tahun 1960 an).
Arsitektur Post Modern adalah arsitektur yang berkembang setelah era Arsitektur Modern dimana aliran Arsitektur yang baru ini mempunyai tujuan menolak, menyempurnakan, dan mengkoreksi terhadap kesalahan yang telah terjadi pada Arsitektur Modern dimasa sebelumnya.
·         Arsitektur Nusantara
Lingkungan kemasyarakatan dimana arsitektur itu berada selalu menguatkan keberadaan arsitektur itu sendiri, dimana aspek-aspek yang ada dalam suatu lingkungan menjadi pendukung utama suatu eksistensi nilai atau bentukan dari Arsitektur Nusantara.
Suatu eksistensi Arsitektur Nusantara dalam suatu lingkungan sering kali dipengaruhi oleh aspek-aspek di bawah ini, diantaranya adalah :
§  Budaya dan tradisi (adat istiadat )
§  Agama
§  Kondisi alam
§  Tingkat ekonomi
§  Tingkat pendidikan
c.       Arsitektur Modern
§  Adalah hasil pemikiran baru mengenai pandangan hidup yang lebih “manusiawi” yang ditrapkan pada bangunan.
§  Adalah totalitas daya, upaya dan karya dalam bidang arsitektur yg dihasilkan dari alam pemikiran modern yang dicirikan sikap mental yang selalu menyisipkan hal-hal baru, progresip, hebat dan kontemporer sebagai pengganti dari tradisi dan segala bentuk pranatanya.
§  Adalah arsitektur yang ilmiah sekaligus artistik dan estetik, atau arsitektur yang artistik & estetik yang dapat dipertanggungkan secara ilmiah.
Perbandingan Antara Arsitektur Modern, Purna Modern, Dan Pasca Modern
Arsitektur Modern
Arsitektur Purna Modern
Arsitektur Pasca Modern
Universal
Kontekstual
Regional, historical
Funsional
Multi Fungsional
Multi Fungsional
Wadah kegiatan
Teks
Teks
Produk, solusi
Bahasa
Bahasa
Fungsi ke betuk
Bentuk ke fungsi
Bentuk ke fungsi
Simpliciti
Exremcity
Kompleksitas
Singel – coding
-
Double - coding
Platonic – geometri
Geometri Dekontruktive
Figurative Geometri
Tidak ada simbol
Tidak ada simbol
Simbolic
Space = volume = form
Space = room 
Space = room
Less is more
Deconstructed is more
Less is bore
Repetitive form
Free form
Symbolic form
Rational
Ide-ide lain kebetuk perwujudan yang ekstrim
Kombinasi

Rabu, 04 Mei 2016

PENELITIAN ARSITEKTUR. SEMESTER VI



                   PENELITIAN ARSITEKTUR

UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA

TUGAS PENELITIAN ARSITEKTUR.

DI SUSUN OLEH  :
ASEP SOPYAN.


PENDAHULUAN
Penilitian adalah terjemahan dari kata inggris research. Kata research tersebut juga dapat di terjemah kan sebagai riset oleh beberapa ahli. RESEARCH itu sendiri berasal dari kata re, yang berarti Kembali dan to search yang berarti Mencari. Dengan demikian arti sebenar nya dari research atau riset adalah Mencari Kembali.
Menurut kamus Webster’s New International, penelitian adalah penyelidikan yang berhati – hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip, suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Menurut Gee (1950) penelitian adalah suatu pencarian, penyelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurang nya sebuah pengaturan baru atau interpretasi (tafsiran) baru dari pengetahuan yang timbul. Metode yang digunakan bisa saja ilmiah atau tidak, tetapi pengadaan harus kritis dan prosedur harus sempurna. Dalam masalah aplikasi, maka Nampak nya aktivitas lebih banyak setuju kepada pencarian (search) daripada suatu pencarian kembali (re-search). Jika proses yang terjadi adalah hal yang selalu diperlukan, maka penelitian sebaiknya digunakan untuk menentukan ruang lingkup dari konsep dan bukan untuk menambah definisi lain terhadap definisi-definisi yang telah begitu banyak.
Secara umum dapat dikatakan bahwa penelitian adalah suatu penyelidikan yang terorganisasi. Penelitian juga bertujuan untuk merubah kesimpulan-kesimpulan yang telah diterima, ataupun dahlil-dahlil dengan adanya aplikasi baru dari dahlil-dahlil tersebut. Penelitian dengan menggunakan metode ilmiah (scientific menthod) disebut penelitian ilmiah (scientific research) dengan 2 unsur penting, yaitu unsur pengamatan dan unsur nalar.
Bagaimana halnya dengan bidang arsitektur? Secara kapita slekta arsitektur merupakan hasil karya seni yang bermanfaat, tahan lama, mengikuti hokum alam, ekonomis, spesifik, dan memperhatikan keadaan pemakai yang diungkapkan berdasarkan pengalaman yang teramati secara kreatif (Isa, 1999). Pandangan tersebut baru merupakan pendapat pihak arsitek, belum tentu merupakan keinginan dari pihak pemakai. Kenapa hal demikian terjadi? Hal ini disebabkan karena arsitek harus berkarya untuk pemakai dengan memperhatikan dampaknya pada masyarakat disekitar bangunan itu.
Agar keinginan dari pemakai dapat dipahami dengan baik, maka arsitek seharusnya datang kepada mereka yang menanyakan tentang apa-apa saja yang di inginkannya. Kemudian bahan/fakta yang ditanyakan diperoleh, disesuaikan dengan persyaratan kearsitekturan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penolakan atas seluruh maupun sebagian dari fungsi ruang yang disediakan. Datang kepada mereka tidak berarti seacara langsung tetapi dapat dilakukan dengan perangkat survey yang dilakukan dengan metode penelitian ilmiah bidang social.
PERANAN PENELITIAN ARSITEKTUR
Kegunaan penelitian arsitektur adalah untuk memahami keinginan si pemakai tanpa mengabaikan kondisi tapak/lingkungan setempat, dan akhirnya menterjemahkan ke dalam bentuk suatu desain. Untuk mendapatkan hal-hal tersebut, makan seorang arsitek harus melakukan penelitian survey, mengumpulkan data, analisis, sintesis, dan konsepsi; tetapi tetap dalam hubungannya dengan penelitian ilmiah, baik pengertian maupun kemampuan dari luas cakupan yang berbeda. Umumnya arsitek lebih menekankan penelitiannya pada penemuan konsep rekayasaan ruang fisik kegiatan manusia saja. Disamping itu seorang arsitek demi keinginan pemakai harus memposisikan arsitektur diatas dasar ilmu-ilmu alam dan kemanusiaan, yang sama-sama ilmu empiris. Dengan kata lain, didalam mencari kebenaran, arsitek lebih banyak memakai cara kerja induktif, yaitu cara kerja dengan langkah-langkah berupa observasi, eksperimen, dan penemuan. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan dilakukan cara kerja deduktif, bila data yang diperoleh lebih banyak menggunakan data kuantitatif seperti dilakukan ilmu-ilmu pasti lainnya, contohnya : penanganan masalah rayap berdasarkan prinsip patologi bangunan.
Selama ini info yang diperoleh peneliti arsitektur banyak disandarkan kepada daya ingat dari objek dalam mencari fakta. Oleh karenanya, timbul permasalahan tentang bagaimana mengurangi bias dari informasi yang diterima. Hal ini merupakan tambahan kerja yang memerlukan pencermatan dari peneliti arsitektur. Secara umum dapat disimpulkan bahwa peneliti arsitektur selalu mendapatkan dirinya berkecimpung dalam masalah aktifitas ataupun melibatkan dirinya dalam meneliti catatan aktifitas manusia, dan harus membuat proses dan fenoma dari masalah tersebut. Variablel-variabel fenoma arsitektur sulit sekali diukur secara kuantitatif sebab hanya membatasi terhadapat desain saja, sehingga data yang diperoleh lebih banyak merupakan data kualitatif.
METODE ILMIAH DALAM PENELITIAN ARSITEKTUR
Metode ilmiah dapat dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan idealnya adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta,maka metode ilmiah berkehendak mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan metode kesangsian sistematis (Nazir, 1998). Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu apakah benar, dan sebagainya.
Kesulitan terbesar yang pada umumnya dihadapi oleh seorang peneliti adalah menentukan metode ilmiah yang akan digunakan dalam penelitiannya agar penelitian tersebut dapat memberikan hasil yang sahih (valid) dari kacamata ilmiah. Pada penelitian kuantitatif, kesahihan hasil penelitian banyak tergantung dari keandalan (reliability) instrument yang dipakai serta pilihan metode statistic yang digunakan untuk menganalisis hasil pengukurannya. Sedangkan pada penelitian kualitatif, yang pengkajiannya tidak berdasarkan hal-hal yang terukur (measurable) lebih sulit untuk mendapatkan hasil penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan derajat keilmiahannya. Dalam kaitan ini, salah satu kata kunci yang penting untuk mencapai atau mendakati hasil penelitian kualitatif yang sahih adalah “interpretasi” yang dalam aplikasinya sebagai metode penelitian. Pada prinsipnya penelitian kualitatif adalah pengamatan atas sesuatu fakta untuk melihat kecenderungan-kecenderungannya, yang dilakukan dengan cara menghubungkan dengan fakta-fakta lainnya sebagai suatu representasi kolektif. Dengan demikian kecenderungan-kecenderungan sesuatu fakta yang diamati dapat diidentifikasi.
Arsitektur merupakan perpaduan dari ilmu-ilmu alam dan seni/social, sehingga pada umumnya data yang diperoleh merupakan data kuantitatif dan data kualitatif. Penelitian di bidang arsitektur harus mencakup tiga aspek utama yaitu kegunaan, kekuatan dan keindahan. Untuk aspek kekuatan (struktur, bahan bangunan) dapat dilakukan penelitian kuantitatif (data terukur). Dilain pihak untuk aspek kegunaan dan keindahan lebih banyak diperlukan penelitian kualitatif, karena data yang diperoleh berasal dari obyek yang tidak bisa diukur (misalnya pandangan hidup, rasa keindahan, dan sebagainya).
PERUMUSAN HIPOTESIS
Dalam metode penelitian, pengajuan hipotesis merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi. Hipotesis sendiri tidak lain merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan hubungan apa yang kita cari atau yang ingin kita pelajari. Hipotesis adalah pernyataan yang diterima secara sementara sebagai suatu kebeneran sebagaimana adanya dan merupakan panduan kerja dalam verifikasi. Hipotesis amat berguna dalam penelitian.
Pengajuan hipotesis sangat berguna dalam penelitian arsitektur. Tanpa adanya hipotesis tidak akan ada progress dalam wawasan atau pengertian ilmiah untuk mengumpulkan fakta empiris. Tanpa adanya ide yang membimbing (hipotesis), maka sulit dicari fakta-fakta yang ingin dikumpulkan dan sukar menentukan mana yang relevan dan mana yang tidak dalam desain arsitektur. Tinggi rendahnya kegunaan hipotesis sangat bergantung pada ketajaman pengamatan si arsitek, imajinasi serta pemikiran kreatif, kerangka analisis yang digunakan, dan metode serta desain yang dipilih.